Rabu, 15 Juli 2015

Tantangan DInasti Politik





Dalam tinjauan moral dan hukum, korupsi dan segala variansinya adalah praktik ynag harus ditolak dalam politik yang demokratis. Namun, secara sosiologis meluasnya korupsi membawa suatu akibat yang menguntungkan bagi tegaknya public good governance kerena bersama dengan terungkapnya kasus korupsi-korupsi besar, tersingkap juga berbagai konspirasi politik, dinasti politik dalam bentuk nepotisme yang pada giliran berikutnya melahirkan kronisme.
Ada persamaan dan perbedaan nepotisme dan kronisme sebagai praktik dalam organisasi. Dua praktik itu mempunyai kesamaan bahwa penempatan seseorang dalam birokrasi tidak didasarkan pada kompetensi teknis, tetapi pada faktor-faktor nonteknis.
Bedanya dalam nepotisme, posisi dalam birokrasi di tentukan oleh hubungan kekeluargaan dan kekerabatan, sedangkan dalam kronisme posisi itu ditentukan oleh hubungan perkoncoan. Dinasti politik merupakan gejala nepotisme, yang dalam perkembangannya akan menciptakan kronisme.
Dalam organissasi yang baik, nepotisme dianggap sebagai praktik yang menyimpang. Mengapa ini menyimpang ? ada pertanyaan kritis yang lainnya yang patut menjadi perhatian. Apa dasarnya bahwa kalau saya menjadi bupati, saudara-saudara saya tidak boleh ikut bekerja pada pemerintahan saya, sekalipun mereka terbukti sanggup ? kalau mereka sudah melewati semua tes seleksi dengan benar dan lulus tes tersebut, mengapa mereka tidak boleh mendapatkan pekerjaan dan posisi yang mereka kehendaki ?
Cukup terbukti bahwa beberapa kasus di Indonesia bahwa hubungan yang terikat oleh faktor kekeluargaan cendrung menjadi tertutup dan eksklusif, terutama apabila para pelaku itu sudah terlibat dalam penyelewengan dan pelanggaran hukum. Ketertutupan itu mempersulit transparansi dan  akuntabilitas. Juga menjadi penghambat bagi monotoring dan pengawasan. Akibatnya, penyelewengan dan pelanggaran hukum yang terjadi akan terus menumpuk dari waktu ke waktu, dan merugikan kepentingan publik secara akumulatif.
Kita tahu pemerintahan dan birokrasi pemerintahan adalah lembaga publik, yang harus bertanggung jawab atas kepentingan umum melalui kebijakan-kebijakan publik. Karena itu, sifat publik dari jabatan-jabatan pemerintahan perlu dijaga agar tidak dipersulit oleh hubungan-hubungan yang personal, yang menjadi ciri pemerintahan patrimonial.
Dalam politik, kronisme seperti ini tidak saja menguasai sumber daya ekonomi, tetapi juga sumber daya politik yang berhubungan dengan akses kepada sumber daya ekonomi, dan cendrung menjadi berkembang menjadi suatu oligarki dalam pemerintahan. Memang setiap oligarki selalu dapat berdalih bahwa meskipun kekuasaan ekonomi dan politik hanya ada pada beberapa orang, mereka tetap saja bekerja uuntuk kepentingan rakyat dan memperjuangkan kepentingan umum.
Sifat eksklusif nepotisme mempersulit tercipatanya tata kelola yang baik ( good Governance ) karena kelompok yang mempraktikan nepotisme cendrung tertutup, serta tidak mudah di monotoring dan diawasi. Ketertutupan itu sendiri sudah bertentangan dengan equal opportunity atau kesempatan yang sama untuk melakukan partisipasi potilik secara terbuka karena peran-peran tertentu dalam pemerintahan sudah diblokir untuk anggota in-group yang menikmati hak-hak istimewa.
Mungkin sudah saatnya perlu disusun legislasi yang akan mempersulit praktik nepotisme, kronisme dan dinasti politik dalam pemerintahan karena ini langkap pertama yang efektif menuju keadilan dan kesejahteraan rakyat, yang menjadi alasan satu-satunya bahwa ada, mengapa harus ada, negara merdeka yang bernama republik Indonesia.
Pemerintah sebelumnya telah berupaya mencegah timbulnya politik dinasti di Indonesia melalui pembuatan peraturan pada Pasal 7 huruf (r) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 .
Pasal itu berbunyi agar calon kepala daerah "tidak memiliki konflik kepentingan dengan petahana." Konflik kepentingan yang dimaksud adalah, para calon kepala daerah nantinya dilarang memiliki hubungan kekerabatan akibat hubungan darah atau pernikahan dengan kepala daerah yang sedang menjabat saat pilkada berlangsung.
Namun Mahkamah Konstitusi (MK) melalui sidang putusan perkara nomor 33/PUU-XIII/2015, menganulir larangan seorang calon kepala daerah berkonflik kepentingan dengan petahana, yang disematkan dalam UU Nomor 8 Tahun 2015. Peraturan tersebut pun batal sebelum sempat diterapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam Pilkada serentak tahun ini.
Pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dilakukan dalam menyikapi legalnya dinasti politik pada saat ini ? Membangun demokratisasi di Indonesia merupakan pekerjaan jangka panjang. Selepas dari otoritarian Soeharto, kita tidak bisa serta merta mendambakan sistem politik-ekonomi yang mapan seketika. Butuh waktu panjang untuk membangun demokratisasi ala Indonesia sesuai konstitusi kita. Dan salah satu pihak yang memiliki kewajiban penuh untuk membangun demokratisasi ini adalah partai politik (parpol).
Mengapa? Karena semua pintu masuk jabatan politik, terutama di eksekutif dan legislatif, mesti melalui parpol. Oleh karenanya, parpol harus segera mengubah maindset dalam hal pencarian, perekrutan dan pengkaderan. Tidak bisa lagi dengan cara-cara instan seperti merekrut publik figur semacam artis atau pengamat. Semua harus dimulai dari bawah. Selain itu juga dengan melihat Track record calon tersebut, dan tidak lupa pula melihat fakta integritas dari calon tersebut.
Cara seperti ini juga dapat diterapkan dalam pemilihan jabatan eksekutif seperti pemilihan presiden, gubernur, dan walikota/bupati. Mengapa demikian? Karena cara seperti cukup ampuh untuk mengikis praktek koneksitas dan popularitas yang selama ini terjadi. Selanjutnya adalah  kita semua yang juga selaku pelaku jalannya demokrasi tersebut harus juga lebih selektif lagi dalam memilih pemimpin kita. Semoga pilkada serentak pada akhir tahun ini dapat berjalan dengan sukses, karena pilkada kali ini merupakan kunci pelaksanaan pilkada serentak pada tahapan-tahapan selanjutnya, karena itu, mutlak bagi seluruh elemen bangsa menjaga perhelatan akbar ini dari berbagai kepentingan politik oknum dan kelompok.

Kamis, 20 November 2014

rekrutman dan seleksi



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Manajemen Sumber Daya Manusia diperlukan untuk meningkatkan efektivitas sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan bagaimana seharusnya perusahaan  mendapatkan, mengembangkan, menggunakan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat.

Salah satu kunci utama dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional adalah terletak pada proses rekrutmen, seleksi. Mencari tenaga kerja yang profesional dan berkualitas tidaklah gampang. Merupakan sebuah kewajiban dalam sebuah organisasi dan perusahaan-perusahan harus melakukan penyaringan untuk anggota atau para pekerja yang baru. Untuk itulah rekrutmen tenaga kerja dibutuhkan untuk menyaring para pelamar yang ingin melamar. Dalam organisasi, rekrutmen ini menjadi salah satu proses yang penting dalam menentukan baik tidaknya pelamar yang akan  melamar pada organisasi tersebut.

Apapun alasannya, jika terjadi lowongan pekerjaan dalam suatu organisasi maka lowongan tersebut haruslah diisi. Salah satu cara untuk mengisi lowongan tersebut adalah dengan melakukan proses rekrutmen. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai rekrutmen, mulai dari pengertian sampai dengan kendala-kendala dalam rekrutmen serta hal-hal yang berkaitan dengan seleksi.

B.     Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan batasan masalah yang mencakup tentang :
1.      Apa definisi rekrutmen dan seleksi?
2.      Apa tujuan rekrutmen dan filosofi rekrutmen?
3.      Apa hambatan rekrutmen?
4.      Apa proses dan sumber-sumber rekrutmen?
5.      Apa itu seleksi pegawai?
6.      Apa itu penempatan kerja?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan kegiatan rekrutmen dan seleksi
2.      Untuk mengetahui tujuan dan filosofi rekrutmen serta apa saja yang menjadi hambatan dari kegiatan rekrutmen dan juga mengetahui proses proses rekrutmen dan masalah penempatan kerja
























BAB II
PEMBAHASAN


A.    Rekrutmen
Rekrutmen merupakan komunikasi dua arah. Para pelamar menghendaki informasi yang akurat mengenai seperti apa rasanya bekerja di dalam sebuah organisasi. Sedangkan organisasi sangat menginginkan informasi yang akurat tentang pelamar tersebut jika kelak mereka menjadi karyawan.

1.      Pengertian Rekrutmen Menurut Para Ahli
Ada beberapa pengertian rekrutmen menurut para ahli, sebagai berikut :
a.       Drs. Fautisno Cardoso Gomes (1995:105) menyatakan bahwa “rekruitmen merupakan proses mencari, menemukan dan menarik para pelamar untuk dipekerjakan dalam dan oleh suatu organisasi.”
b.      Menurut Randall S. Schuler dan Susan E. Jackson (1997:227) dalam Nanang Nuryanta (2008) rekrutmen antara lain meliputi upaya pencarian sejumlah calon karyawan yang memenuhi syarat dalam jumlah tertentu sehingga dari mereka perusahaan dapat menyeleksi orang-orang yang paling tepat untuk mengisi lowongan pekerjaan yang ada.
c.       Menurut Noe at. all ( 2000 ) rekrutmen didefinisikan sebagai pelaksanaan atau aktifitas organisasi awal dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan mencari tenaga kerja yang potensial.
d.      Menurut  Schermerhorn, 1997 Rekrutmen (Recruitment) adalah proses penarikan sekelompok kandidat untuk mengisi posisi yang lowong. Perekrutan yang efektif akan membawa peluang pekerjaan kepada perhatian dari orang-orang yang berkemampuan dan keterampilannya memenuhi spesifikasi pekerjaan.

Dari beberapa pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Rekrutmen  adalah  proses mencari, menemukan, mengajak dan menetapkan sejumlah orang dari dalam  maupun dari luar perusahaan sebagai calon tenaga kerja dengan karakteristik tertentu seperti yang telah ditetapkan dalam perencanaan sumber daya manusia. Hasil yang didapatkan dari proses rekrutmen adalah sejumlah tenaga kerja yang akan memasuki proses seleksi, yakni proses untuk menentukan kandidat yang mana yang paling layak untuk mengisi jabatan tertentu yang tersedia di perusahaan.

2.      Tujuan dan  Filosofi Rekrutmen
a. Tujuan Rekrutmen
Menurut Henry Simamora (1997:214) rekrutmen memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:
·         Untuk memikat sebagian besar pelamar kerja sehingga organisasi akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pemilihan terhadap calon-calon pekerja yang dianggap memenuhi standar kualifikasi organisasi.
·         Tujuan pasca pengangkatan adalah penghasilan karyawan-karyawan yang merupakan pelaksana-pelaksana yang baik dan akan tetap bersama dengan perusahaan sampai jangka waktu yang masuk akal.
·         Meningkatkan citra umum organisasi, sehingga para pelamar yang gagal mempunyai kesan-kesan positif terhadap organisasi atau perusahaan.

b. Filosofi Rekrutmen
        Salah satu isu kunci dalam fisolofis rekrutmen adalah apakah akan mempromosikan sebagian besar dari dalam perusahaan, ataukah akan mengangkat dari luar guna mengisi kekosongan disemua jenjang perusahaan.
        Aspek kedua dari filosofi rekrutmen adalah prihal penekanannya pada sekadar mengisi lowongan sajakah, atau pengangkatan untuk tujuan jangka panjang. Apakah organisasi mencari orang dengan keahlian yang memadai untuk lowongan saat ini, atau apakah organisasi berupaya memikat tipe calon berbakat yang dapat menghidupi manajemen dimasa yang akan datang.

        Aspek ketiga dari filosofi berkenaan dengan kedalaman komitmen untuk mencari dan mengangkat beberapa karyawan.
        Aspek keempat dari fisolofi rekrutmen adalah apakah pelamar dianggap sebagai komonditas yang hendak dibeli atau sebagai pelanggan yang hendak dirayu. Organisasi yang menganut ancangan pemasaran terhadap rekrutment akan mencurahkan banyak waktu dan dana guna menentukan apa yang dikehendaki oleh pelangganya dan menyesuaikan pratik dan pesan rekrutmen dengan berbagai segmen pasar.
Aspek kelima dari filosofi rekrutmen menyangkut persoalan etis. Persoalan etis disini adalah perihal kejujuran dan keadilan proses rekrutmen.

3.      Hambatan-Hambatan Rekrutmen
            Agar  proses perekrutan berhasil maka perusahaan perlu menyadari berbagai kendala yang bersumber dari “organisasi, pelaksana perekrutan dan lingkungan  eksternal”. Kendala-kendala yang dihadapi setiap perusahaan tidak sama, tetapi pada umumnya kendala-kendala itu adalah:

a.       Faktor-faktor organisasional
Berbagai kebijaksanaan organisasi merupakan cermin utama atas berhasil atau tidaknya perekrutan calon pegawai. Kebijaksanaan organisasi yang akan mempengaruhi perekrutan itu adalah:
Ø  Kebijaksanaan Kompensasi dan Kesejahteraan.
Jika perusahaan dapat memberikan kompensasi dan kesejahteraan yang cukup besar serta adil maka pelamar yang serius akan semakin banyak, tetapi sebaliknya jika gaji dan kesejahteraan rendah maka pelamar menjadi sedikit.
Ø  Kebijaksanaan Promosi
Apabila kesempatan untuk promosi diberikan cukup luas maka pelamar yang serius semakin banyak, tetapi sebaliknya jika kesempatan untuk promosi sangat terbatas maka pelamar akan menjadi sedikit. Promosi merupakan idaman setiap karyawan, karena dengan promosi berarti status dan pendapatan akan bertambah besar.
Ø  Kebijaksanaan Status Karyawan
Jika status karyawan menjadi karyawan tetap/full-time maka pelamar semakin banyak, tetapi jika status karyawannya honorer/harian/part-time maka pelamar akan semakin sedikit.
Ø  Kebijaksanaan Sumber Tenaga Kerja
Jika tenaga kerja yang akan diterima hanya bersumber dari tenaga kerja local maka pelamar yang serius akan sedikit, tetapi sebaliknya bila tenaga kerja yang akan diterima bersumber dari seluruh Nusantara, maka pelamar akan semakin banyak.
b.      Kebiasaan Pencari Tenaga Kerja
Sebagai tenaga spesialis yang diharapkan bahwa mereka yang sering pula dikenal sebagai pencari tenaga kerja itu mampu bertindak dan berpikir rasional, akan tetapi karena berbagai faktor, seperti latar belakang pendidikan dan pengalaman para tenaga kerja tersebut mungkin saja sudah mempunyai kebiasaan kebiasaan tertentu, kebiasaan tersebut ada segi positif ada juga segi negatif.
c.       Kondisi-kondisi lingkungan eksternal
Jika kondisi perekonomian tumbuh dengan cepat dan saingannya juga banyak maka pelamar akan sedikit, tetapi jika tingkat pertumbuhan perekonomian keci l/depresi, maka pelamarnya akan semakin banyak.
4.      Prinsip dan Metode Rekrutmen
a.       Menurut Rivai (2006), prinsip-prinsip rekrutmen terdiri dari:
Ø  Mutu staf dan pengajar yang akan direkrut harus sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk mendapatkan mutu yang sesuai, untuk itu sebelumnya perlu dibuat suatu analisis jabatan, deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan.
Ø  jumlah staf dan pengajar yang diperlukan harus sesuai dengan job yang tersedia, untuk mendapatkan hal tersebut perlu dilakukan peramalankebutuhan tenaga kerja dan analisis terhadap kebutuhan tenaga kerja.
Ø  Biaya yang diperlukan diminimalkan.
Ø  Perencanaan dan keputusan-keputusan strategis tentang perekrutan.
Ø  Feksibility.
Ø  Pertimbangan-pertimbangan hukum
b.      Metode Penarikan Karyawan
Menurut Setiawan (2013:3), dasar penarikan harus berpedoman pada spesifikasi pekerjaan yang telah ditentukan untuk menjabat jabatan tersebut. Sedangkan metode penarikan akan berpengaruh besar terhadap banyaknya lamaran yang masuk ke dalam perusahaan. metode penarikan calon karyawan baru dibagi atas:
Ø  Metode Tertutup
Metode tertutup yaitu dimana penarikan itu hanya diinformasikan kepada para karyawan atau orang-orang tertentu saja. Akibatnya lamaran yang masuk menjadi relatif sedikit, sehingga kesempatan untuk mendapatkan karyawan yang baik akan semakin sulit.
Ø  Metode Terbuka
Metode terbuka adalah dimana penarikan itu diinformasika secara luas dengan memasang iklan pada media massa baik cetak maupun elektronik, agar tersebar luas ke masyarakat.

5.      Proses Dan Sumber Rekrutmen
            Proses pelaksanaan  rekrutmen  dan biasanya terdiri dari beberapa langkah atau tahapan. Di bawah ini adalah langkah-langkah yang biasanya dilakukan dalam pelaksanaan rekrutmen
a.       Proses Rekrutmen
Adapun dalam proses rekrutmen meliputi beberapa poin penting, yaitu sebagai berikut:
1)      Penyusunan strategi untuk merekrut
            Dalam penyusunan  strategi  ini, peran departemen sumber daya manusia bertanggung  jawab dalam  menentukan  kualifikasi-kualifikasi pekerjaan, bagaimana karyawan direkrut, di mana tempatnya, dan kapan pelaksanaannya.
2)      Pencarian pelamar-pelamar kerja
Banyak atau sedikitnya pelamar dipengaruhi oleh usaha dari pihak perekrut untuk menginformasikan lowongan, salah satu caranya adalah dengan membina hubungan yang baik dengan sekolah-sekolah atau universtas-universitas.
3)      Penyaringan atau  penyisihan pelamar-pelamar kerja yang tidak cocok.
Di dalam proses ini memerlukan perhatian besar khususnya untuk membendung diskualifikasi karena alasan yang tidak tepat.karena pada tahap ini kadang terjadi kejanggalan akibat tidak sportif atau disiplinnya dalam perekrutan.
4)      Pembuatan kumpulan pelamar
Kelompok pelamar yang sudah disaring merupakan kumpulan individu-individu yang telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh perekrut dan merupakan kandidat yang layak untuk posisi yang dibutuhkan.

b.      Sumber Rekrutmen
Setelah diketahui spesifikasi pekerjaan karyawan yang dibutuhkan maka kita harus menentukan sumber-sumber perekrutan calon karyawan tersebut. Sumber perekrutan calon karyawan  itu adalah sumber internal dan eksternal perusahaan.
1.      Sumber Internal
            Sumber internal adalah  karyawan yang  akan  mengisi  lowongan kerja diambil dari dalam perusahaan tersebut, yakni dengan cara memutasikan atau pemindahan karyawan yang memenuhi spesifikasi pekerjaan jabatan itu. Pemindahan karyawan itu baik yang bersifat vertikal (promosi ataupun demosi) maupun bersifat horizontal. Jika masih ada karyawan yang memenuhi spesifikasi pekerjaan, sebaiknya pengisian jabatan tersebut diambil dari dalam perusahaan, khususnya untuk jabatan manajerial. Hal ini sangat penting untuk memberikan kesempatan promosi bagi karyawan yang ada.

Adapun kebaikan dan kelemahan sumber internal adalah sebagai berikut :
Ø  Kebaikan-kebaikan sumber internal
§  Meningkatkan  moral kerja & kedisiplinan karyawan, karena ada kesempatan promosi.
§  Perilaku dan loyalitas karyawan semakin besar terhadap perusahaan.
§  Biaya perekrutan relatif kecil, karena tidak perlu memasang iklan.
§  Waktu perekrutan relatif singkat.
§  Orientasi dan induksi tidak diperlukan lagi.
§  Kestabilan karyawan semakin baik.
Ø  Kelemahan-kelemahan sumber internal
§  Kewibawaan  karyawan yang dipromosikan itu kurang.
§  Kurang membuka kesempatan sistem kerja baru dalam perusahaan.
Bila tidak ada karyawan yang dapat memenuhi kualifikasi-kualifikasi jabatan yang lowong tersebut, maka kita merekrutnya dari sumber eksternal.
2.      Sumber Eksternal
Sumber Eksternal adalah karyawan yang akan mengisi jabatan yang lowong dilakukan perekrutan dari sumber-sumber tenaga kerja diluar perusahaan, yaitu:
§  Kantor penempatan tenaga kerja.
§  Lembaga-lembaga pendidikan.
§  Serikat-serikat buruh.
§  Pasar tenaga kerja dengan memasang iklan pada media massa.
§  Sumber-sumber lainnya

Adapun kebaikan dan kelemahan sumber eksternal adalah sebagai berikut :
Ø  Kebaikan-kebaikan sumber eksternal
§  Kewibawaan  pejabat relatif baik.
§  Kemungkinan  membawa sistem kerja baru yang lebih baik.
Ø  Kelemahan-kelemahan sumber eksternal
§  Prestasi karyawan lama cenderung turun, karena tidak ada kesempatan untuk promosi.
§  Biaya perekrutan besar, karena iklan dan seleksi.
§  Waktu perekrutan relatif lama.
§  Orientasi dan induksi harus dilakukan.
§  Turnover cenderung akan meningkat.
§  Perilaku dan loyalitasnya belum diketahui.
Secara detail sumber eksternal bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Advertising (suratkabar, majalah, radio, internet). Melakukan pemasangan iklan di koran untuk mengumumkan rekrutmen baru. Misal : harian Kompas hari Minggu selalu penuh dengan iklan lowongan pekerjaan. Sebuah perusahaan yang serius mengelola dan mengivestasikan dana pengembangan SDM, biasanya akan memasang iklan lowongan besar – minimal separo halaman atau bahkan satu halaman penuh. Hal ini juga untuk menunjukkan reputasi mereka yang benar-benar ingin merekrut calon pekerja yang bermutu handal.
b.      Melakukan rekrutmen di kampus-kampus. Beberapa perusahaan di Indonesia seperti Unilever dan Astra kerap melakukan kunjungan langsung ke kampus-kampus seperti UI, ITB dan Unair untuk melakukan rekrutmen langsung di kampus.
c.       Melalui Agen Rekutmen. Cara ini biasanya dilakukan untuk merekrut karyawan pada posisi manajer keatas. Agen sering juga disebut sebagai “headhunter”.

B.     Seleksi Pegawai
Dalam Sudut pandang definitif, Seleksi merupakan rangkaian langkah kegiatan yang dilaksanakan untuk memutuskan apakah seorang pelamar diterima / ditolak dalam suatu instansi tertentu setelah menjalani serangakaian tes yang dilaksanakan. Dalam bahasa lugas, Seleksi adalah proses memilih dari para pelamar melalui tahapan – tahapan tes, sehingga diperoleh sejumlah pelamar yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan dinyatakan diterima.

1.      Pengertian Seleksi Menurut Para Ahli
Pengertian atau definisi seleksi antara lain adalah sebagai berikut:
a.       Menurut T. Hani Handoko (1996:146 ): seleksi adalah serangkaian langkah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar diterima atau tidak diterima oleh perusahaan tersebut.
b.      Menurut Malayu S.P Hasibuan ( 2002:47): seleksi adalah suatu kegiatan pemilihan dan penentuan pelamar yang diterima atau ditolak untuk menjadi karyawan perusahaan. Seleksi ini didasarkan kepada spesifikasi tertentu dari setiap perusahaan yang bersangkutan.
c.       Menurut Malayu S.P Hasibuan ( 2002:47): seleksi adalah suatu kegiatan pemilihan dan penentuan pelamar yang diterima atau ditolak untuk menjadi karyawan perusahaan. Seleksi ini didasarkan kepada spesifikasi tertentu dari setiap perusahaan yang bersangkutan.

Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa seleksi pegawai adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh karyawan yang paling tepat dalam kualitas maupun kuantitas dari calon-calon yang telah diperoleh dari kegiatan rekrutmen. Dan dapat ditambahkan kembali bahwa seleksi sangat berperan bila ternyata para karyawan berprestasi baik sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu seleksi merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan.
           
2.      Proses Dan Tahapan Seleksi
Menurut Siagian (2006), bahwa setiap perekrut tenaga kerja yang mempunyai rasa tanggung jawab secara profesional dapat dipastikan ingin dan berusaha agar melalui proses seleksi yang dilakukannya diperoleh tenaga kerjayang paling memenuhi syarat untuk mengisi lowongan yang tersedia. Agar sasaran seperti itu tercapai, proses seleksi menggabungkan dua hal, yaitu yang berkaitan langsung dengan pekerjaan yang akan dilakukan apabila lamaran seseorang diterima dan faktor-faktor lain yang meskipun tidak langsung berkaitan dengan pekerjaannya kelak, akan tetapi memberikan gambaran yang lebih akurat tentang diri pelamar yang bersangkutan.
Secara singkat penjelasan tahapan-tahapan seleksi adalah sebagai berikut:
a.       Penerimaan surat lamaran
b.      Penyelenggaraan ujian
c.       Wawancara seleksi
d.      Pengecekan latar belakang pelamar dan surat-surat referensi
e.       Evaluasi kesehatan
f.       Wawancara oleh manajer yang akan menjadi atasan langsungnya
g.      Pengenalan pekerjaan
h.      Keputusan atas lamaran


3.      Kualifikasi dasar seleksi
            Beberapa kualifikasi yang menjadi dasar bagi pelaksanaan seleksi diberbagai perusahaan menurut Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, 2001 adalah sebagai berikut:
a.       Keahlian. Keahlian digolongkan menjadi tiga macam, yaitu: Teknikal Skill  (keahlian yang dimiliki oleh pegawai), Human Skill (keahlian yang dimiliki sub pimpinan), Konseptual Skill (keahlian yang dimiliki oleh pucuk pimpinan).
b.      Pengalaman. Pengalaman kerja seseorang pelamar hendaknya mendapat pertimbangan utama dalam proses seleksi.Orang yang berpengalaman merupakan calon karyawan yang telah siap pakai.
c.       Kesehatan Fisik. Kesehatan fisik penting untuk dapat menduduki suatu jabatan. Tidak mungkin seseorang dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik jika sering sakit. Bahkan, perusahaan akan dibebani pengeluaran biaya perawatan yang cukup besar.
d.      Pendidikkan. Pendidikkan merupakan suatu indikator yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan latar belakang pendidikkan pula seseorang dianggap akan mampu menduduki suatu jabatan tertentu
e.       Umur. Umur harus mendapat perhatian karena akan mempengaruhi kondisi fisik, mental, kemampuan kerja, dan tanggung jawab seseorang. Umur pekerja juga diatur oleh undang -undang perburuhan. Karyawan muda pada umumnya mempunyai fisik yang lebih kuat, dinamis, dan kreatif, tetapi cepat bosan, kurang bertanggungjawab, cenderung absensi, dan turnover-nya tinggi. Keryawan yang umurnya tua kondisi fisiknya kurang, tetapi bekerja ulet, tanggung jawabnya besar, serta absensi dan turnover-nya rendah.
f.       Kerja Sama. Kerja sama harus diperhatikan dalam proses seleksi, karena kesediaan kerja sama, baik vertical maupun horizontal merupakan kunci keberhasilan perusahaan, asalkan kerja sama itu sifatnya positif serta berasaskan kemampuan.
g.      Kejujuran. Kejujuran merupakan kualifikasi seleksi yang sangat penting karena kejujuran merupakan kunci untuk mendelegasikan tugas kepada seseorang. Perusahaan tidak akan mendelegasikan wewenang kepada seseorang yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab.
h.      Inisiatif dan Kreatif. Hal ini merupakan kualifikasi seleksi yang penting karena inisiatif dan kreativitas dapat membuat seseorang mandiri dalam menyelesaikan pekerjaannya.
i.        Kedisiplinan. Kedisiplinan perlu diperhatikan dalam proses seleksi karena untuk menyelesaikan tugas dengan baik seseorang harus disiplin, baik pada dirinya sendiri maupun pada peraturan perusahaan.

4.      Tujuan Seleksi
            Seleksi pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi syarat dan memiliki kualifikasi yang sesuai dengan deskripsi pekerjaan yang ada atau sesuai dengan kebutuhan organisasi/perusahaan.
            Tujuan seleksi adalah mendapatkan tenaga kerja yang paling tepat untuk memangku  suatu jabatan tertentu. Mengarah pada tujuan seleksi yang demikian itu, setiap organisasi yang bersangkutan senantiasa akan berusaha dengan biaya yang serendah  mungkin dengan menggunakan cara yang paling efisien, tetapi efektif.
Tujuan Seleksi tersebut diantaranya :
a.       Menjamin perusahaan memiliki karyawan yang tepat untuk suatu jabatan/ pekerjaan.
b.      Memastikan keuntungan investasi SDM perusahaan.
c.       Mengevaluasi dalam mempekerjakan dan penempatan pelamar sesuai minat.
d.      Memperlakukan pelamar secara adil dan meminimalkan deskriminasi.
e.       Memperkecil munculnya tindakan buruk karyawan yang seharusnya tidak diterima.

C.    Penempatan Kerja
Dari setiap pekerja dalam organisasi diharapkan adanya komitmen penuh terhadap organisasi, tidak sekedar ketaatan kepada berbagai ketentuan kepegawaian yang berlaku dalam organisasi yang bersangkutan. Tetapi dalam pada itu organisasi pun mutlak perlu menanamkan keyakinan dalam diri para keryawannya bahwa dengan komitmen penuh pada organisasi, berbagai harapan, cita-cita dan kebutuhan para karyawan itu akan terwujud dan terpenuhi.
Penempatan harus dilakukan dengan hati-hati agar setiap pekerja dapat bekerja sesuai dengan keahlian dan mengerti bagaimana mengerjakan tugas-tugasnya. Selaian itu, dinamika bisnis menyebabkan permintaan terhadap tenaga kerja relatif lebih sering berubah-ubah kualifikasinya sehingga penyesuaian setiap kali harus dilakukan. Oleh karena itu, kegiatan penempatan tidak hanya dilaksanakan setelah seleksi namum meliputi pula penempatan dalam rangka promosi, demosi, transfer, dan pemberhentian. Khusus untuk karyawan yang di promosikan lazimnya perusahaan melakukan terlebih dahulu pelatihan dan pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk jabatan yang akan di pegangnya. Selain itu pelatihan diperlukan setiap kali ada peralatan baru ataupun sistem kerja yang baru. Intinya pelatihan dan pengembangan diperlukan untuk mengisi posisi antara kualifikasi yang dimiliki karyawan dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh pekerja/jabatan.

Sebagai penutup dari bab ini, maka uraian tentang rekrutmen, seleksi dan penempatan dapat diringkas dalam bentuk gambar di bawah. Acuan dalam rekrutmen adalah beberapa persyaratan umum yang ditentukan organisasi perusahaan berdasarkan kebutuhan jabatan. Rekrutmen menghasilkan kumpulan pelamar. Kumpulan pelamar ini kemudian di sesuaikan dengan persyaratan umum yang telah ditetapkan perusahaan, mereka yang tidak memenuhi persyaratan tidak akan diikut sertakan dalam proses seleksi, hanya yang sesuai dengan persyaratan saja yang boleh mengikuti tahap lanjut proses pengadaan tenaga kerja ini.
Proses selaksi dilakukan berdasarkan standar yang telah di tentukan yang dituangkan dalam berbagai tes, baik tes potensi akademik, tes psikologi, tes kesehatan maupun tes lainnya. Penyaringan yang teliti dilakukan pada saat ini, yag tidak lulus seleksi ditolak. Setelah itu barulah melakukanpenempatan kerja terhadap karyawan baru tadi dengan kriteria utama kesesuaian pekerja dengan pekerja.






















Pelamar

 

Rekrutmen
 

Memenuhi
Persyaratan umum
 











Tolak
 

Seleksi
 

Standar
penilaian
 









 












Kesesuaian dengan
Pekerjaan
 
                                                                   Terima




Penempatan
 
 








STUDI KASUS
Rekrutmen dan Seleksi Pada RSU AL-Islam H.M. Mawardi
Rekrutmen di RSU Al-Islam H.M. Mawardi tersebut menggunakan dua sumber rekrutmen, yaitu sumber internal dan sumber eksternal. Sumber internal adalah karyawan yang akan mengisi lowongan kerja diambil dari pekerja yang ada di RSU Al-Islam H.M. Mawardi sendiri, yakni dengan cara memutasikan atau memindahkan karyawan yang memenuhi spesifikasi pekerjaan jabatan itu.
Metode yang dilaksanakan untuk sumber internal seperti promosi, yaitu karyawan yang awalnya memiliki jabatan rendah menjadi naik jabatannya. Tetapi cara ini biasanya hanya digunakan pada beberapa jabatan saja yang mungkin bisa dipromosikan seperti ini. Cara ini lebih pada posisi jabatan manajerial, misal kepala bagian tertentu. Di RSU Al-Islam H.M. Mawardi contohnya adalah jabatan Kepala SDM, biasanya mengambil atau mempromosikan orang yang sudah bekerja disana untuk dinaikan jabatannya. Karena tidak mungkin mengambil orang baru yang belum mengetahui RSU Al-Islam H.M. Mawardi ini untuk menjadi Kepala SDM.
Kelebihan dari metode ini adalah Organisasi mengetahui pekerja yang memiliki kemampuan sesuai untuk jabatan yang kosong. Biaya perekrutan relatif kecil dan waktu pelaksanaan juga relatif singkat. Selain itu juga mampu meningkatkan motivasi pekerja karena mengetahui kemungkinan peningkatan jabatan.
Rekrutmen dengan sumber eksternal dilakukan dengan cara menempelkan pengumuman tentang lowongan kerja di RS tersebut. Surat lamaran yang didapatkan akan ditaruh di bank lamaran, kemudian surat tersebut baru dipilah dan diproses saat tenaga baru dibutuhkan. Contoh bidang yang cocok dengan metode ini adalah akuntan.
RSU Al-Islam H.M. Mawardi juga melakukan alternatif rekrutmen sebelum dilaksanakannya proses rekrutmen. Alternatif yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan tenaga kerja yang ada. Selain itu, juga mungkin diadakan lembur sampai tenaga baru tersebut ditemukan. Kerja lembur bisa membantu pihak RS dan karyawan. Pihak RS memperoleh manfaat dengan terhindar dari biaya perekrutan, seleksi, dan pelatihan. Sedangkan karyawan memperoleh keuntungan dari peningkatan pendapatan selama periode kerja lembur.
Namun ada masalah potensial dalam kerja lembur, yaitu karyawan bisa menjadi lelah dan kekurangan tenaga untuk bekerja pada tingkat normal, sehingga hasil kerjanya kurang maksimal, tapi pihak RS harus membayar lebih.
Hambatan rekrutmen yang sering dialami di RSU Al-Islam H.M. Mawardi adalah ketrampilan, kejujuran, keseriusan, dan kepribadian orang yang dipilih tidak bisa dilihat secara langsung. Selain itu juga tidak mudah mendapatkan tenaga baru untuk posisi yang spesifik, dikarenakan sedikitnya lulusan yang bersangkutan. Contohnya adalah bagian rekam medis.
Sebaiknya sebelum melaksanakan rekrutmen, bisa dilakukan alternatif rekrutmen untuk menghemat biaya yang dikeluarkan. Alternatif rekrutmen lain yang bisa dilakukan, selain kerja lembur adalah mengangkat pekerja outsourcing. Outsourcing adalah proses memperkerjakan pemasok jasa eksternal untuk menjalankan pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan secara internal.
Metode lain yang bisa dipakai untuk rekrutmen adalah secara online. Perekrutan online memiliki beberapa keunggulan dibandingkan metode perekrutan biasa. Iklan online melalui internet lebih murah sehingga biaya rekrutmen dapat dikurangi. Selain itu, pemasangan iklan lebih mudah dan respons yang didapat lebih banyak dan lebih cepat. Manfaat lain perekrutan online adalah memendeknya siklus waktu perekrutan, yaitu waktu mulai dari munculnya lowongan hingga terisinya posisi menjadi lebih pendek.
Tujuan yang paling dasar dari seleksi adalah menemukan karyawan yang paling mungkin memenuhi standar kinerja organisasi dan yang akan dapat puas serta berkembang dalam jabatan yang bersangkutan.
Sesuai dengan prinsipnya, sebelum melakukan seleksi pada orang luar perusahaan, menyeleksi terlebih dahulu pada orang dalam perusahaan, supaya lebih efektif. Seperti yang telah dijelaskan di makalah, proses penyeleksian bersifat kondisional, tidak harus mutlak seperti yang dijelaskan. Seperti contoh di atas proses seleksi ditambah dengan tes tentang keagamaan karena RSU ini berbasis Islam.
Sesuai dengan referensi yang ada di makalah, hambatan yang dialami oleh RS ini termasuk tantangan supply, Karena keterbatasan suplai tersebut menyebabkan organisasi tidak leluasa memilih calon karyawan terbaik.


BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
            Rekrutmen dan seleksi termasuk fungsi – fungsi MSDM yang mempunyai peranan strategis dalam mempersiapkan dan menyediakan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sebagaimana ditetapkan dalam analisis pekerjaan khususnya deskripsi dan spesifikasi. kedua kegiatan tersebut didahului oleh kegiatan analisis pekerjaan dan perencanan sumber daya manusia.  Bahwa kegiatan recruitmen dan seleksi harus didasarkan pada suatu kebutuhan yang dialami organisasi, baik dalam segi fisik maupun dari segi kemampuan dan keterampilan. Pelaksanaan kedua kegiatan tersebut jika secara wajar dikerjakan sesuai  dengan prinsip – prinsip manajemen yang baik, niscaya dapat mencegah suatu organisasi akan mengalami surplus pegawai, kecuali karena adanya faktor – faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh organisasi itu sendiri. Pelaksanaan fungsi rekrutmen dan seleksi sepenuhnya adalah tanggung jawab dari depertemen SDM dalam suatu perusahaan secara manajerial. Artinya, tidak semua kegiatan rekrutmen dan seleksi  dilaksanakan setiap karyawan baik, secara sendiri maupun yang tergabung dalam perusahaan seperti recruitter, pelaksanaan berbagai tes yang belum tentu dimilik oleh suatu perusahaan.

B.     SARAN DAN KRITIK
            Demikian makalah ini kami susun dengan harapan semoga makalah ini Bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Apabila ada kekurangan dan kesalahan yang terdapat dalam makalah ini,  kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun dan memotivasi.







DAFTAR PUSTAKA

Jackson, Susan E. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia (alih bahasa  Dwi Kartini      Yahya). Cet.1. Jakarta: Erlangga

Jummaliani. 2011. Pengelolaan Sumber Daya Insani. Cet.1. Jakarta: Bumi Aksara

Nuraini. T. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia. Ed. Pertama. Cet-1. Yogyakarta:     CV. Aswaja Pressindo

Siagaan, Sondang. P. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Ed. 1. Cet-19.      Jakarta:Bumi Aksara